all about daily, opinion, stories, inspiration, until the lesson

Senin, 16 April 2018

Dilan 1990, Review Ala Nad


Ini film udah beberapa bulan yang lalu. Sebenernya pengen memberikan opini tapi belum baca dan nonton ceritanya, jadi belum berani.
Berhubung baru nonton minggu lalu, jadi baru bisa memberikan opininya sekarang.


Disaat yang lain rame dengan cuitan-cuitan gombalnya, atau isu-isu negatifnya, atau gosip-gosip pemainnya, sepertinya aku lebih tertarik pada beberapa pelajaran yang bisa diambil dari ceritanya tersebut.
Tentunya dalam pandangan umum, bukan pandang Syar’i ataupun pandangan hukum Negara.


Pertama, Dilan ini walaupun nakal, tapi tetap menghargai perempuan, tetap menghormati bundanya, rela gk jadi tempur untuk nurutin permintaan Milea, bahkan masih mau nganterin Susi yang ayahnya sakit, walaupun dia gk suka sama Susi. Dia bilang: tidak mencintai bukan berarti membenci. Buat laki-laki, ini penting banget untuk diinget. Tetap hargai dan sayangilah perempuan! Jangan bersikap semaunya aja!.

Kedua, aku teringat banget sama kata-kata Dilan setelah dia berani melawan pak Suripto, dia bilang: guru itu digugu dan ditiru, siapapun dia kalau tidak mau menghargai oranglain, maka dia tidak akan dihargai oleh oranglain. Walaupun tindakan dia yang berani memukul pak Suripto itu kurang tepat, tapi satu kata-kata diatas yang dia jadikan alasan itu bener-bener mengena banget. Dari situ mengingatkan bahwa sebagai kader calon-calon pengajar (insya Allah), kita perlu belajar bagaimana caranya menegur murid dengan baik, dan bagaimana cara menyikapi murid-murid yang nakal secara bijak. Ini jadi tugas penting bagi para pengajar atau calon-calon pengajar.

Ketiga, sikap bunda Dilan saat anaknya diskors, waktu itu bundanya bilang ke Milea: kita tidak boleh sembarang menghakimi anak remaja tanpa kita tahu bagaimana menjadi dia (kurang lebih begitu). Iya, bener banget kata bunda Dilan itu, perlu ada pendekatan antara orangtua dan anak, agar ketika anak melakukan kesalahan, lebih mudah untuk menyikapinya. Gk asal dibela mentang-mentang anaknya, atau malah asal dihukum mentang-mentang dia melakukan kesalahan.


 Hmmm..
Mungkin ini, sederhana memang. Tapi ada pelajaran tersendiri yang begitu mengena.
Sekali lagi, ini bukan promosiin projek Dilan dan sekuel-sekuelnya, bukan juga baik-baikin Dilan. Cuma sekedar memberikan opini sederhana yang dapat kita ambil pelajaran darinya,,

5 komentar:

  1. masyaa Allah...like bangett dech..cara pandang yang bagus.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehee masa ah mif... thank's a lot deh atas supportnya, waiyyakk

      Hapus
    2. bener lah.. masama.. :)
      terus menulis nad.. :)

      Hapus

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

About Author

Assalamu'alaikum, welcome to my personally blog. This blog is a place where i want to share many things, in between characters, and more. Thank you for visiting and Happy Reading! -Nadiya Ridlwan-
Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Pages - Menu

Instagram

@nadiyakaff

Copyright © Nadiya Ridlwan | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com