PEMURTADAN, SEKULARISASI, DAN NATIVISASI
(Tiga Tantangan Dakwah Menurut Muhammad Nastir*)
Oleh: Khonsa’ An Nahdiyyah
I.
PENDAHULUAN
Dakwah merupakan sebuah kewajiban bagi setiap
individu muslim, Islam memerintahkan kepada setiap umatnya untuk saling menyeru
kepada jalan yang lurus sesuai syariat. Dengan begitu dakwah merupakan gerakan
yang begitu digetolkan oleh aktivis muslim dalam mempertahankan umat untuk
menapak di jalan yang lurus.
Pastinya dalam setiap dakwah yang dijalankan
tidak terealisasi dengan begitu saja mudahnya, karena tantangan dari musuh Islam
begitu banyak untuk memadamkan kobaran dakwah dalam agama ini.
Pemurtadan, sekularisasi, dan nativisasi adalah beberapa
contoh tantangan dari musuh Islam terhadap dakwah di Indonesia. Ketiga hal tersebut
telah disampaikan oleh Muhammad Natsir sejak beberapa tahun silam dalam bukunya
Percakapan Antar Generasi: Perjuangan Seorang Bapak. Sebagaimana
disampaikan oleh Adian Husaini[1]
bahwa ketiga hal tersebut yakni pemurtadan, sekularisasi dan nativisasi masih menjadi
tentangan dakwah bagi umat Islam hingga saat ini.
Maka dalam makalah ini penulis akan
mengupas tiga tantangan tersebut yakni pemurtadan, sekularisasi dan nativisasi.
Dari pengertian, sejarah, pengaruhnya terhadap Islam serta solusi bagi umat
muslim atas tiga tantangan tersebut. Juga sebagai tambahan wawasan bagi penulis
khususnya dan pembaca pada umumnya.
II.
PEMBAHASAN
A. Pengertian
1. Pengertian Pemurtadan
Pemutadan berasal bahasa arab yakni radda-yaruddu
yang berarti mengembalikan atau memalingkan[2]. Sedangkan
dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Murtad berarti berbalik belakang, berbalik kafir,
membuang iman, berganti menjadi ingkar. Dan pemurtadan
sendiri berarti proses, cara atau perbuatan memurtadkan.[3]
2.
Pengertian
Sekularisasi
Istilah sekularisasi berasal dari kata saeculum yang berarti
sekaligus ruang dan waktu. Ruang menunjukkan pada pengertian duniawi, sedangkan
waktu menunjukkan pada pengertian sekarang atau zaman kini.[4] Sedangkan
sekuarisasi biasa diartikan
sebagai usaha pemisahan antara urusan dunia
(selanjutnya bisa negara) dan urusan agama. Sekularisasi juga berarti proses
pembebasan manusia dari agama, metafisika, atau hal-hal yang bersifat
transedental dan lebih berfokus pada masalah-masalah keduniawian.[5]
3.
Pengertian
Nativisasi
Nativisme berasal
dari bahasa latin natus yang artinya lahir, atau nativus yang
memilik arti kelahiran atau pembawaan. Nativisme merupakan sebuah doktrin yang
berpengaruh besar terhadap teori pemikiran psikologis.[6]
Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia nativisasi berarti sikap atau paham suatu negara atau masyarakat
terhadap kebudayaan sendiri berupa gerakan yang menolak pengaruh, gagasan, atau
kaum pendatang.[7]
Dengan demikian maka, maksud nativisasi dalam dakwah Islam di Indonesia adalah upaya mengembalikan masyarakat Indonesia kepada budaya lokalnya ,
budaya yang dimaksud adalah budaya pra Islam dengan
meningkatkan sentiment kedaerahan.[8]
B.
Pemurtadan
Gerakan pemurtadan memang begitu getol dilakukan oleh para
misionaris, salah satu pemurtadan yang meluas terjadi di Indonesia adalah
gerakan kristenisasi yang dilakukan oleh missionaris Kristen, sehingga ekspansi
gerakan ini begitu nampak terjadi.
Bagi umat Nasrani, kristenisasi atau yang
mereka sebut dengan transformasi atau penuaian jiwa adalah sebuah tugas suci
sesuai yang tertera dalam Bibel. Menurut mereka dunia tidak mungkin damai jika
tidak dikristenkan, maka dari itu kristenisasi adalah harga mati.
1. Sejarah Kristenisasi di Indonesia
Missionaris Kristen atau Katholik masuk ke
Indonesia sejak penjajah Belanda masuk ke negeri ini. Pemurtadan oleh penjajah
juga tidak semata-mata menyasar suku-suku terasing, tetapi juga terhadap
masyaraakaat muslim dengan dukungan besar dari pemerintah Hindia Belanda ketika
itu.[9]
Abad ke-19 merupakan abad pergerakan bagi para
missionaris, peran gereja begitu dominan tak terkecuali ditanah Indonesia.
Dalam Almanak Pemerintah Hindia Belanda disebutkan bahwa tahun 1850 hanya ada
17 pendeta, 27 missionaris protestan dan 9 pastur Katholik Roma. Tahun 1990
jumlah meningkat mencapai 73 missionaris dan 49 pastur.[10]
2. Tahapan Pemurtadan
Pertamakali yang diupayakan oleh para
missionaris adalah perusakan akhlak umat Islam, cara ini mereka anggap cukup
berhasil. Pemurtadan dengan cara perusakan akhlak ini dinyatakan langsung oleh
tokoh missionaris bernama Sammuel Zwimer, ia mengatakan bahwa misi utama
missionaris bukanlah memasukkan kaum muslimin
ke dalam agama Kristen. Tetapi tugas pokoknnya
ialah mengeluarkan umat dari Islam agar menjadi makhluk
tidak bertuhan, atau tidak berhubungan dengan Tuhan. Seterusnya mereka menjadi
manusia yang tidak berakhlak. Karena dalam Islam, akhlak adalah tiang utama dalam bersosial.
Karena tugas missionaris adalah meruntuhkan
nilai-nilai akhlak ini. Oleh sebab itu kristenisasi lebih diprioritaskan untuk
menjauhkan umat Islam dari agama, baru setelah itu memurtadkannya.[11]
Muhammad Natsir menyoroti kristenisasi di
Indonesia ini pada tiga hal yakni kristenisasi itu sendiri, diakona
(pelayanan yang berkedok sosial), dan modus vivendi (modus dalam
menciptakan kehidupan berdampingan beda agama secara damai).[12]
3. Pengaruh Pemurtadan
Pemurtadan juga menjadi perubahan dalam
identitas dan loyalitas seseorang, serta pemisahan diri dari suatu umat kepada
umat lain yang bertentangan. Pemurtadan akan semakin berbahaya jika seseorang
yang telah murtad berani menampakkan diri dengan bangga atas kekufurannya yang
mengancam dasar, pokok, dan pondasi masyarakat muslim.[13]
Dintara jenis pemurtadan yang paling berbahaya
adalah pemurtadan massal, yaitu sebagian orang mengikuti sebagian lainnya,
kemudian membentuk kontra revolusi terhadap Islam dan dakwahnya, umatnya, dan
negerinya.
Dalam hal ini, masyarakat muslim haruslah mempertahankan harga dan prinsip moralnya
serta harus mempertahankan eksistensi agamanya jika diserang oleh para
missionaris. Dalam artian yakni seorang muslim hendaklah meguatkan kesadaran
berislam dan meningkatkan ukhuwah islamiyah.[14]
Dalam strategi Muhammad Nastir untuk
menghadapi kristenisasi di Indonesia adalah dengan membentuk kader-kader muslim
serta menulis buku-buku kristenisasi agar kaum muslimin senantiasa waspada
teradap gerakan kristenisasi tersebut.[15]
C. Sekularisasi
1. Sejarah Sekularisasi
Istilah sekularisme pertama kali digunakan
oleh penulis Inggris bernama George Holyoake pada tahun 1846, walaupun istilah
yang digunakan adalah baru, namun konsep kebebasan berfikir yang dengannya
sekularisme didasarkan telah ada sejaak dahulu kala.[16]
Istilah sekularisasi mendapatkan arti yang berbeda-beda sesuai
dengan konteks masalah yang sedang aktual menurut
golongan atau bangasa yang berkepentingan. Pada abad ke-18 pengertian
sekularisasi dikaitkan dengan masalah kekuasaan dan kekayaan duniawi yang
dimiliki oleh para rohaniawan, kemudian dalam abad ke-19 sekularisasi diartikan
penyerahan kekuasaan dan hak milik gereja
kepada negara atau yayasan duniawi.
Sedangkan dalam abad ke-20 ini, pengertian
sekularisasi menjadi cukup tegas. Sementara itu
menjadi jelas bahwa diantara banyak arti yang berbeda tersebut terdapat satu
aspek yang sama, antara dua hal yang
saling dipertentangkan yakni urusan agama dan urusan keduniawian. Maksudnya
kedua urusan yang berlainan tidak boleh dicampurbaurkan, masing-masing harus
ditangani sendiri.[17]
Dalam dunia Islam istilah sekularisme pertama
kali dipopulerkan oleh Zia Gokalp, sosiolog terkemuka dan teoritikus nasionalis
turki. Ini seringkali dipahami dalam pengertian anti religius, dan tafsiran ini
lebih jauh memunculkan kecurigaan yang menyertai sikap terhadap gagasan itu
sendiri.[18]
2.
Pengaruh
Sekularisme Terhadap Agama Islam
Sekularisasi diartikan sebagai pemisahan antara urusan negara
atau politik dari urusan agama, atau pemisahan antara duniawi dan akhirat.
Padahal, dalam agama Islam telah ditetapkan bahwa setiap urusan manusia memilik
aturan-aturan syariatnya, terlebih pada urusan hukum dan kenegaraan. Karena
gerakan sekularisasi bertujuan untuk membebaskan manusia dari pengertian-pengertian
religius yang suci.
Akibat dari sekularisasi ini, maka masyarakat
semakin lama akan terbebaskan dari nilai-nilai agama atau spiritual. Maka
secara umum terjadilah pembedaan nilai-nilai keagamaan dalam
masyarakat.[19]
Dalam masalah ini, Muhammad Nastir mengajak
kepada seluruh muslimin Indonesia untuk meninggalkan pemikiran hidup sekuler.[20]
Karena pada dasarnya, sekularisme
sangatlah tidak cocok dengan ajaran, akhlak dan sejarah Islam, dan sekularisme
bukanlah dari tradisi Islam melainkan dari tradisi barat.
D. Nativisasi
1. Sejarah Nativisasi
Pada hakikatnya nativisasi bersumber dari leibnitzian
tradition yakni sebuah yang menekankan pada kemampuan dalam diri seorang
anak. Tokoh aliran nativisme adalah Arthur Schopenhaur, ia adalah filosof
Jerman yang hidup pada tahun 1788-1880. Aliran ini berpandangan bahwa
perkembangan individu ditentukan oleh faktor bawaan sejak lahir.[21]
Namun kasusnya dalam dunia dakwah Islam di
Indonesia, istilah nativisasi digunakan untuk upaya pengembalian masyarakat
Indonesia kepada budaya lokalnya , budaya yang dimaksud adalah budaya pra Islam
dengan menigkakan sentiment kedaerahan.
Dalam kacamata sejarah di Indonesia,
nativisasi sudah terjadi sejak penjajahan Belanda. Karel Steenbrink, seorang
akademisi menggambarkan bahwa pada abad ke-19, Islam dianggap sebagai kekuatan
yang harus dihilangkan. Langkah yang diambil selalu menunjukkan penilaian Islam
sebagai musuh menakutkan yang tidak harus diserang secara langsung tetapi
menghadapinya dengan mempromosikan bahasa kebiasaan kuno, adat dan agama
rakyat. Van Randwijk mencirikan strategi ini dengan ungkapan “strategi
memangkas islam”.[22]
Menurut Beggy Rizkiyansyah dari Jejak Islam
untuk Bangsa[23],
pemerintah kolonial dan missionaris sejak abad ke-17 saling membantu untuk
menyebarkan paham nativisme dengan menghidup-hidupkan kebudayaan lama yang
telah terkubur dan mati dalam masyarakat Indonesia.[24]
Tokoh-tokoh nativisme yang namanya sering
muncul di buku-buku sejarah antara lain adalah Thomas Stanford Rafless dan Van
Den Bosch. Keduanya sangat berpengaruh dalam pengaburan nilai-nilai Islam di
Indonesia. Kaum kolonialis dan missionaris memanfaatkan kaum priyayi sebagai
alat untuk menguasai Indonesia.[25]
2. Pengaruh Nativisasi
Nativisasi yang dikhawatrikan oleh Muhammad
Natsir adalah sebuah gerakan yang berupaya mengangkat sedemikian rupa
kebudayaan nusantara pra Islam dengan motif untuk memarginalkan peran Islam.
Banyak sekali efek yang masih terasa saat ini akibat dari gerakan
nativisasi. Masyarakat masih menganggap bahwa nilai-nilai Islam bertentangan
dengan budaya[26]
Upaya menghidupkan kembali suatu aspek
kehidupan tentu saja bukan tidak wajar dilakukan. Namun akan menjadi masalah
bagi dakwah apabila aspek-aspek kebudayaan tersebut diseleksi dengan tujuan
memarginalkan dan bahkan menghilangkan peran Islam dari suatu kebudayaan. [27]
Terlebih, dunia dakwah saat ini menhadapi
isu-isu yang secara langsung maupun tidak langsung memposisikan agama Islam sebagai
paham asing di Indonesia. Seperti, wacana “agama asli” dan juga “budaya
asli”, dalam isu seperti ini Islam selalu dituduh membawa watak arab dan
kebudayaannya di Indonesia.[28]
Menurut Adian Husaini, Islam dianggap sebagai
barang asing dan seolah memberikan sumbangan yang berarti bagi wilayah
nusantara. Indonesia sering dikaitkan dengan kerajaan Majapahit sebagai puncak
peradaban, sebaliknya Islam diposisikan sebagi musuh dari tradisi-tradisi adat,
Selain itu faktor nativisasi juga sangat berperan dalam menghambat proses
perkembang Islam.[29]
Peran pendakwah dalam hal ini bisa dirumuskan
dengan ungkapan “mengubah” dan “melestarikan” terhadap
wujud-wujud budaya yang ada. Pengubahan dilakukan terhadap wujud-wujud budaya
yang negatif dan bertentang dengan hukum Islam. Untuk wujud budaya yang
memiliki nilai positif dan negatif bersamaan maka diusahakan agar nilai
positifnya dipertinggi dan sebisa mungkin nilai negatifnya dileburkan.
Sedangkan wujud budaya yang sepenuhnya tidak bertentangan dengan hukum Islam
maka bisa dikembangkan dan ditingkatkan nilai positifnya. Jadi, tugas-tugas
umat Islam beserta ormas-ormasnya bukan hanya sekedar melestarikan wujud-wujud
kebudayaan Islam saja. Lebih dari itu, umat Islam harus terus memperjuangkan
agar kebudayaan yang berkembang di masyarakat Indonesia menjadi semakin Islami.[30]
III.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Muhammad Natsir mengatakan bahwa umat muslim
memiliki tiga tantangan dakwah di Indonesia yakni pemurtadan, sekularisasi, dan
nativisasi. Pemurtadan adalah sebuah usaha missionaris untuk mengeluarkan umat
muslim dari agamanya. Sedangkan sekularisasi adalah usaha pemisahan antara urusan dunia (selanjutnya bisa negara)
dan urusan agama. Dan nativisasi merupakan upaya
mengembalikan masyarakat Indonesia kepada budaya lokalnya , budaya yang
dimaksud adalah budaya pra Islam dengan
meningkatkan sentiment kedaerahan.
B. Saran
Sebagaimana yang telah kita fahami diatas,
maka hendaklah bagi seorang muslim untuk memperkuat keyakinan iman dan
mempertahankan prinsip moral beragama dan meninggalkan pemikiran-pemikiran
sekuler, serta menjadikan budaya di masyarakat menjadi lebih islami.
Sekian penjelasan penulis tentang pemurtadan,
sekularisasi, dan nativisasi dalam makalah ini. Semoga menjadi tambahan wawasan
dan bermanfaat bagi penulis maupun pembaca sekalian. Wallahu A’lam Bisshowab
Referensi
Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa
Indonesia. TT. Jakata: Balai Pustaka.
Drs.
D.Hendropuspito. O. C. Sosiologi Agama. 1983. Yogyakaarta: Penerbit Kanisius.
Munawwir, Ahmad Warson. Kamus Al-Munawwir. 1997. Surabaya:
Pustaka Progresif.
Rachman, Budhy Munawwar. Argumen Islam Untuk Sekularisme. 2010. Jakarta: Grasindo.
Qardhawi, Yusuf. Fiqih Jihad. 2010. Jakarta:
Mizan.
Abahtya, M. Hayat,
Jum’atil Fajar, Informasi Kapuas (jil.14): 11 juni-31 Desember.
Majalah Asy-Syariah edisi 106: Melawan Kristenisasi. 2015.
Yogyakarta: Oase Imani.
Wahyuni, Sri. Skripsi: Strategi Dakwah Muhammad Nastir
dalam Mengahadapi Missionaris Kristen. Fakultas Dakwah Institut Agama Islam
Negeri Walisongo Semarang.
Suhandi, Jurnal: Sekularisasi di Indonesia dan
Implikasinya Terhadap Konsep Kenegaraan.
Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini, https://www.gaulislam.com/tiga-tantangan-dakwah-umat-islam diakses
pada 15 May 2009.
Susiyanto, Tantangan Nativisasi Budaya Bagi Dakwah Di
Indonesia, http://majalahtabligh.com/2017/tantangan-nativisasi-budaya-bagi-dakwah-di-indonesia/ diakses pada 18 agustus 2017 10:58 WIB.
https://mocoe.wordpress.com/2009/05/26/teori-nativisme/, diakses pada26 Mei 2009.
http://susiyanto.com/tantangan-nativisasi-budaya-bagi-dakwah-di-indonesia/
https://www.hidayatullah.com/berita/berita-dari-anda/read/2017/01/23/110262/nativisasi-dan-pengaburan-nilai-nilai-islam.html diakses pada 23 Januari 2017 15:00 WIB.
https://islamkitasemua.wordpress.com/2009/04/20/%E2%80%98sepilisasi%E2%80%99-dan-nativisasi-ancaman-peradaban-islam-di-indonesia/
https://juliawankomang.wordpress.com/2015/12/01/teori-belajar-menurut-nativisme-empirisme-dan-konvergensi/ diakses pada 1 desember 2015.
*Mumahammad Nastir merupakan seorang ulama, poltisi, dan pejuang
kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan pendiri sekaligus pemimpin partai politik
Masyumi, dan tokoh Islam terkemuka di Indonesia.
[1]Adalah seorang cendekiawan muslim, beliau mendapatkan amanah sebagai ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan
Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor, dan peneliti di Institute for the Study
of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS)
[8]Abahtya, Muhammad Hayat, dan Jum’atil Fajar, Informasi Kapuas (jil.14): 11 juni - 31
Desember, hlm. 33.
[9]Majalah Asy-Syariah edisi 106: Melawan Kristenisasi, (yogyakarta:
Oase Imani, 2015), hlm. 2.
[12]Sri Wahyuni, Skripsi: Strategi Dakwah Muhammad Nastir dalam Mengahadapi
Missionaris Kristen, (Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri Walisongo
Semarang), hlm.28 dan 34.
[13]Yusuf Qardhawi, Fiqih Jihad, (Jakarta: Mizan, 2010 ), hlm. 119.
[14] ibid
[18]Suhandi, Jurnal: Sekularisasi di Indonesia dan Implikasinya Terhadap
Konsep Kenegaraan, hlm.74.
[20]Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini, https://www.gaulislam.com/tiga-tantangan-dakwah-umat-islam
[23]Adalah sebuah komunitas pecinta sejarah yang didirikan pada Juli 2013.
[29]https://islamkitasemua.wordpress.com/2009/04/20/%E2%80%98sepilisasi%E2%80%99-dan-nativisasi-ancaman-peradaban-islam-di-indonesia/
[30]Susiyanto, Tantangan Nativisasi Budaya Bagi Dakwah Di Indonesia, http://majalahtabligh.com/2017/tantangan-nativisasi-budaya-bagi-dakwah-di-indonesia/

0 komentar:
Posting Komentar