all about daily, opinion, stories, inspiration, until the lesson

Minggu, 22 Juli 2018

Nikah Euy




Beberapa waktu lalu sempat viral kisah bocah ABG berumur 14-15 tahun yang menikah, yg cowok baru lulus SD dan yang cewek udah kelas 2 SMP. Cuma disini aku lagi gk pengen mengomentari kisah mereka, itukan pilihan hidup mereka dan orangtuanya, kita gk ada hak ikut campur sih.

Cuma, dari kisah itu aku jadi pengen nulis pendapatku selama ini tentang marriage, hmmm..
What I think about marriage?

Tiga tahun lalu waktu baru-baru lulus Aliyah, pandanganku tentang nikah masih cetek banget, aku mikirnya nikah yaa penyatuan antara 2 insan yang sebelumnya masih ‘haram” menjadi “halal”, kemudian bebas pacaran kesana kesini sama pasangan barunya, urusan permasalahan rumah tangga itumah nanti dijalanin aja, namanya juga masalah pasti ada. Fiyuh,, itu karna selama itu yang didapet  tetang nikah ya enak enak nya aja, ada yang jagain ada yang nemenin…dan bla bla bla saya malu nulisnya.

Tapi seiring berjalannya waktu, pandangan itu jadi berbalik 180 derajat.
Bahwa nikah itu gk cuma sekedar penyatuan antara dua insan dengan ikatan yang halal, tapi dibalik kata “qobiltu” yang diikuti riuh “sah” dari para saksi dan hadirin itu ada tanggung jawab besar yang langsung ditimpakan dipundak pasangan itu, gk cuma butuh modal ‘cinta’, selanjutnya harus ada komitmen antara kedua pasangan itu, (susah tau). Karna suami dan istri harus jadi partner setia dalam segala urusan mereka, bukan cuma sekedar si istri ngurusin suami dan si suami ngasih uang bulanan buat istrinya (ini pandangan sempit yah), tapi harus bisa memposisikan diri dalam keadaan apapun, ibaratnya suami adalah si pilot dan si istri adalah co-pilotnya, gimana caranya supaya pesawat yang mereka kendarai itu gk jatuh dan tetep terbang sampai akhir tujuannya.

Terkhusus nanti klo udah punya anak, gimana caranya mendidik anak itu agar jadi pribadi yang hebat, punya empati terhadap sesama, sholih sholihah, berguna untuk orang-orang sekitarnya. Dan itu semua bukan tugas mudah, butuh present yang baik dari kedua orangtuanya. Dan butuh present yang cukup antara ibu dan ayah untuk anaknya biar si anak ini bisa ideal belajar dari keduanya. Karna dari ibu, si anak bisa belajar menjadi pribadi yang berperasaan dan punya empati yang baik. Dan dari ayah, si anak bisa belajar berfikir rasional, biar gak dompleng antara keduanya.

Dan yang paling penting dalam pernikahan itu perlu modal iman dan taqwa, dengan satu kunci yaitu tawakal, dan rasa cinta akan tumbuh bersama rasa qona'ah atas pasangan kita. Karna kata iman, taqwa, tawakal, qona'ah itu udah punya pengertian yang luas dan menyeluruh dalam kehidupan manusia.

Nah, jadi klo ada yang nanya “undangannya kapan nih?” atau pertanyaan-pertanyaan semisalnya, biarin aja! Toh klo misal udah nikah dan muncul masalah dalam rumah tangga, mereka-mereka yang dulu suka nanya-nanya itu gk ikut ngurus kan? Yang ngehadepin kita berdua…haha

10 komentar:

  1. masyaa Allah....dewasa nian..hhe

    mampir ukh.. :)

    BalasHapus
  2. bayangin nad, dulu kamu nikah pas habis muallimat...hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. mm..mungkin aku udah gk mikirin lagi siapa jodohku, tpi mikirin dedek yg tengah malem nangis sampe bikin ibunya pusying hehe

      Hapus
  3. Ada masanya kita sadar akan sebuah persiapan untuk menghadapi gelombang dalam kehidupan mendatang...:)
    Okke banget nad,,

    BalasHapus
  4. ciee nadiya ahmad...barakallahu fiki

    BalasHapus
  5. Maasyaallah baru mampir" nih,,
    Ternyata pinter nulis" ya. Hihi

    BalasHapus

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

About Author

Assalamu'alaikum, welcome to my personally blog. This blog is a place where i want to share many things, in between characters, and more. Thank you for visiting and Happy Reading! -Nadiya Ridlwan-
Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Pages - Menu

Instagram

@nadiyakaff

Copyright © Nadiya Ridlwan | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com