Beberapa
waktu lalu sempat viral kisah bocah ABG berumur 14-15 tahun yang menikah, yg
cowok baru lulus SD dan yang cewek udah kelas 2 SMP. Cuma disini aku lagi gk
pengen mengomentari kisah mereka, itukan pilihan hidup mereka dan orangtuanya,
kita gk ada hak ikut campur sih.
Cuma,
dari kisah itu aku jadi pengen nulis pendapatku selama ini tentang marriage, hmmm..
What
I think about marriage?
Tiga
tahun lalu waktu baru-baru lulus Aliyah, pandanganku tentang nikah masih cetek
banget, aku mikirnya nikah yaa penyatuan antara 2 insan yang sebelumnya masih ‘haram”
menjadi “halal”, kemudian bebas pacaran kesana kesini sama pasangan barunya,
urusan permasalahan rumah tangga itumah nanti dijalanin aja, namanya juga
masalah pasti ada. Fiyuh,, itu karna selama itu yang didapet tetang nikah ya enak enak nya aja, ada yang
jagain ada yang nemenin…dan bla bla bla saya malu nulisnya.
Tapi
seiring berjalannya waktu, pandangan itu jadi berbalik 180 derajat.
Bahwa
nikah itu gk cuma sekedar penyatuan antara dua insan dengan ikatan yang halal,
tapi dibalik kata “qobiltu” yang diikuti riuh “sah” dari para saksi dan hadirin
itu ada tanggung jawab besar yang langsung ditimpakan dipundak pasangan itu, gk
cuma butuh modal ‘cinta’, selanjutnya harus ada komitmen antara kedua pasangan
itu, (susah tau). Karna suami dan istri harus jadi partner setia dalam segala
urusan mereka, bukan cuma sekedar si istri ngurusin suami dan si suami ngasih
uang bulanan buat istrinya (ini pandangan sempit yah), tapi harus bisa
memposisikan diri dalam keadaan apapun, ibaratnya suami adalah si pilot dan si
istri adalah co-pilotnya, gimana caranya supaya pesawat yang mereka kendarai
itu gk jatuh dan tetep terbang sampai akhir tujuannya.
Terkhusus
nanti klo udah punya anak, gimana caranya mendidik anak itu agar jadi pribadi
yang hebat, punya empati terhadap sesama, sholih sholihah, berguna untuk
orang-orang sekitarnya. Dan itu semua bukan tugas mudah, butuh present yang
baik dari kedua orangtuanya. Dan butuh present yang cukup antara ibu dan ayah
untuk anaknya biar si anak ini bisa ideal belajar dari keduanya. Karna dari
ibu, si anak bisa belajar menjadi pribadi yang berperasaan dan punya empati
yang baik. Dan dari ayah, si anak bisa belajar berfikir rasional, biar gak
dompleng antara keduanya.
Dan yang paling penting dalam pernikahan itu perlu modal iman dan taqwa, dengan satu kunci yaitu tawakal, dan rasa cinta akan tumbuh bersama rasa qona'ah atas pasangan kita. Karna kata iman, taqwa, tawakal, qona'ah itu udah punya pengertian yang luas dan menyeluruh dalam kehidupan manusia.
Dan yang paling penting dalam pernikahan itu perlu modal iman dan taqwa, dengan satu kunci yaitu tawakal, dan rasa cinta akan tumbuh bersama rasa qona'ah atas pasangan kita. Karna kata iman, taqwa, tawakal, qona'ah itu udah punya pengertian yang luas dan menyeluruh dalam kehidupan manusia.
Nah,
jadi klo ada yang nanya “undangannya kapan nih?” atau pertanyaan-pertanyaan semisalnya,
biarin aja! Toh klo misal udah nikah dan muncul masalah dalam rumah tangga, mereka-mereka
yang dulu suka nanya-nanya itu gk ikut ngurus kan? Yang ngehadepin kita berdua…haha

