SANG PENAKLUK
Kemenangan Al-Fatih
merupakan bentuk realisasi kalam Rasul mengenai bisyarah (kabar gembira)
bahwa negara adidaya seperti Romawi bisa ditaklukkan keganasan dan
kepongahannya oleh pemimpin muda lagi alim, tetapi bervisi tinggi.
Penaklukan
Konstantinopel oleh Al-Fatih pada tahun 1453 mengejutkan seluruh penjuru dunia. Kejayaannya
dalam menaklukkan Konstantinopel menyebabkan banyak kawan dan lawan kagum dengan
kepimpinannya serta taktik & strategi peperangannya yang dikatakan mendahului
pada zamannya dan juga kaedah pemilihan tenteranya.
Al-Fatih yang
bermakna Sang Penakluk adalah gelar yang disematkan kepada Sultan Mehmed II
atas keberhasilannya memimpin pasukan Utsmaniyah membebaskan Konstantinopel,
ibu kota Romawi Timur. Al-Fatih mengakhiri sejarah
Kekaisaran Byzantium, kelanjutan Kekaisaran Romawi Kuno. Kemudian, di atasnya,
ia mendirikan kekaisaran muslim, Turki Utsmani, yang baru bangkit dari Asia.
Pendidikan di Masa Belia
Al-Fatih terlahir di Edirne, 29 Maret 1432, delapan tahun setelah
pengepungan Konstantinopel yang dilancarkan oleh ayahnya, Murad II. Tak di
pungkiri jika pendidikan masa kecil juga mempengaruhi karakter seorang Mehmed
II, sejak kecil Ia sudah di berikan pendidikan yang sarat dengan ilmu, baik
berupa ilmu agama seperti ilmu fiqh dan al-Qur’an, juga ilmu yang bersifat umum
seperti ilmu bahasa, matematika, astronomi, ilmu sejarah, geografi, syair,
puisi, seni, dan ilmu teknik terapan lainnya.
Ia habiskan hafalan seluruh ayat Al-Qur’an ketika berumur
8 tahun, bahkan ia kuasai bahasa Arab, Turki, Persia, Prancis, Yunani, Serbia,
Herbrew, dan Latin sebelum usianya mencapai 17 tahun. Sebagian besar waktunya
juga dihabiskan di atas kuda, menjajal kemampuan fisiknya dalam medan laga. Semenjak balig, dia tak pernah
luput dari shalat berjamaah, shalat sunnah, puasa sunnah, shalat malam, dan
shalat dhuha. Spiritualitas yang kuat khas pemimpin Islam yang besar sudah
melekati di dirinya sejak muda.
Kombinasi ilmu inilah
yang kemudian membentuk karakter Muhammad Al-Fatih sebagai seorang yang sangat
cerdas. Selain itu Ia juga berguru kepada seorang guru kerajaan yang bernama
Syikh Aaq Syamsudin, seorang polymat juga ulama yang menguasai berbagai bidang
dan berwawasan luas. Sehingga Mehmed mendapatkan ilmunya dari seorang yang
benar-benar tepat.
Dengan usianya yang baru 19 tahun,
Muhammad dilantik menjadi sultan, menyusul kematian ayahnya. Setelah itu,
seluruh harinya ia dedikasikan untuk merancang pembebasan Konstantinopel,
mewujudkan bisyarah sang Rasul.
Konstantinopel akhirnya takhluk
Konstantinopel adalah kota permata yang bersinar menyilaukan
siapapun yang melihatnya. Keindahannya, kemajuannya, budayanya, juga letak
strategisnya. Konstantinopel terlindung tembok benteng yang kukuh menjulang,
kota ini merupakan ibukota Byzantium
yang sudah sejak lama ingin ditaklukan oleh siapapun.
Dua hari
pertama serangan pasukan Sultan Muhammad Al-Fatih dapat dengan mudah dipatahkan
oleh pasukan bertahan Konstantinopel. Taktik penyerangan menggunakan meriam pun
dilakukan. Selama satu pekan,benteng dibombardir tanpa henti. Legenda 1.300
tahun bahwa benteng itu tak tertembus harus bisa dipecahkan rekornya sekarang.
Bombardir
terus diluncurkan, hingga pasukan pun berhasil membuat lubang cukup besar di
dekat Gerbang St.Romanus. 18 April, dua jam setelah azan dan shalat Magrib
dilaksanakan berjamaah, Sultan memerintahkan penyerbuan besar-besaran. Akan
tetapi, kali ini juga mampu ditahan. Benteng memang sudah berkurang
ketahanannya. Namun, untuk ditembus dan merangsek ke dalam kota, itu masih
terlalu jauh.
Peta
Konstantinopel digelar. Di sekelilingnya telah berkumpul komandan perang,
penasihat perang, dan semua ahli taktik Utsmani.Mendiskusikan rantai besar yang
terhampar di laut yang memang digunakan untuk menghalangi pasukan laut Muhammad
mendekati benteng, sang sultan menegaskan, ”Bila kita tak dapat memutuskan rantai
itu, kita akan melewatinya!
Jalan satu-satunya
adalah mengangkat kapal-kapal dari Double Coloumns di Selat Bosphorus melewati
daratan Galata menuju Valley of Springs di Teluk Tanduk Emas agar bisa melewati
rantai raksasa tersebut. Mustahil? Sangat! Akan tetapi, tekad sudah
dicanangkan. Pembebasan Konstantinopel harus segera diselesaikan. Sekarang atau
tidak sama sekali.
Ratusan
sapi jantan dikerahkan untuk menarik kapal-kapal Utsmani membelah bukit dengan
ketinggian rata-rata 60 meter di atas permukaan laut dan ratusan laki-laki
membantu mengarahkan serta menariknya dengan tali-tali yang diikatkan pada
tubuh mereka. Hebatnya, 72 kapal itu sukses melewati bukit tersebut hanya dalam
waktu satu malam.
Perencanaan
serangan pamungkas pun digelar. Semua dewan pertimbangan dikumpulkan. Impian
tujuh turunan keluarga Utsman dan 825 tahun mimpi kaum muslimin harus segera
diwujudkan.
Takbir
bersahutan. Kunci kemenangan bukan pada lengkapnya persenjataan dan jumlah
pasukan, tetapi pada ketaatan kepada Allah dan terjauhnya diri dari
kemaksiatan. Seluruh pasukan Sultan Muhammad sadar akan hal itu.
Pukul
satu dini hari adalah langkah awal berakhirnya pengepungan dan serangan umum
mulai dilancarkan. Serangan penghabisan. Menang atau kalah. Sekarang atau tidak
sama sekali! Empat jam serangan dilancarkan, benteng tak jua berhasil
ditaklukkan. Setiap serangan selalu termentahkan. Ribuan pasukan mulai kendor
lagi semangatnya. Jumlahnya mulai berkurang karena banyak yang syahid.
Sultan
kebingungan. Pasukan Janissari sebanyak tujuh ribu yang menjadi pasukan
andalannya adalah kunci terakhir. Lalu, diperintahkannyalah pasukan Janissari
untuk menyerbu. Pasukan tersebut berhasil menekan pertahanan. Ditambah lagi,
bendera Utsmani berhasil dikibarkan menggantikan bendera St. Mark di sisi lain
benteng. Itu adalah awal dari ciutnya nyali pasukan Konstantinopel. Kota telah
jatuh! Begitu pikir mereka.
Gempuran
meriam makin digencarkan untuk melantakkan benteng. Gerbang St. Romanus pun
dapat dijebol pasukan Janissari dan mereka menancapkan bendera Utsmani di sana.
Setelah itu, 30.000 pasukan muslim telah berada di dalam kota. Kemudian, satu
per satu gerbang dibuka dari dalam dan di satu per satu menara ditancapkan
bendera Utsmani yang berkibar di atasnya, berwarna merah dan hijau dengan bulan
sabit berwarna emas. Terikan-teriakan, ”Kota telah jatuh, kota telah jatuh!” mulai
terdengar bersahutan dari mulut kaum muslimin yang sedari tadi melantunkan
takbir keras-keras.
Prestasi Muhammad Al-Fatih dalam memimpin serta ketegasannya
terhadap musuh sehingga Ia mampu mendapatkan keberhasilan dalam hidupnya, mampu
merebut benteng kokoh bernama Konstantinopel itu, tidak lain juga di latar
belakangi oleh kepribadiannya yang luhur. Sholat malam atau sholat tahajjud
menjadi senjata utamanya. Inilah pedang malam Muhammad Al-Fatih. Dengan
pedangnya ini maka timbullah energi yang luar biasa yang menalir di dalam nadi
setiap pasukannya. Ruh-ruh inilah yang harus dihembuskan dalam dada-dada para
pemuda dimanapun dan kapanpun. Demi mewujudkan Islam yang jaya.