all about daily, opinion, stories, inspiration, until the lesson

Senin, 08 Mei 2017

Sang Penakluk

SANG PENAKLUK


 Kemenangan Al-Fatih merupakan bentuk realisasi kalam Rasul mengenai bisyarah (kabar gembira) bahwa negara adidaya seperti Romawi bisa ditaklukkan keganasan dan kepongahannya oleh pemimpin muda lagi alim, tetapi bervisi tinggi.
 Penaklukan Konstantinopel oleh Al-Fatih pada tahun 1453 mengejutkan seluruh penjuru dunia. Kejayaannya dalam menaklukkan Konstantinopel menyebabkan banyak kawan dan lawan kagum dengan kepimpinannya serta taktik & strategi peperangannya yang dikatakan mendahului pada zamannya dan juga kaedah pemilihan tenteranya.
Al-Fatih yang bermakna Sang Penakluk adalah gelar yang disematkan kepada Sultan Mehmed II atas keberhasilannya memimpin pasukan Utsmaniyah membebaskan Konstantinopel, ibu kota Romawi Timur. Al-Fatih mengakhiri sejarah Kekaisaran Byzantium, kelanjutan Kekaisaran Romawi Kuno. Kemudian, di atasnya, ia mendirikan kekaisaran muslim, Turki Utsmani, yang baru bangkit dari Asia.
Pendidikan  di Masa Belia
Al-Fatih terlahir di Edirne, 29 Maret 1432, delapan tahun setelah pengepungan Konstantinopel yang dilancarkan oleh ayahnya, Murad II. Tak di pungkiri jika pendidikan masa kecil juga mempengaruhi karakter seorang Mehmed II, sejak kecil Ia sudah di berikan pendidikan yang sarat dengan ilmu, baik berupa ilmu agama seperti ilmu fiqh dan al-Qur’an, juga ilmu yang bersifat umum seperti ilmu bahasa, matematika, astronomi, ilmu sejarah, geografi, syair, puisi, seni, dan ilmu teknik terapan lainnya.
 Ia habiskan  hafalan seluruh ayat Al-Qur’an ketika berumur 8 tahun, bahkan ia kuasai bahasa Arab, Turki, Persia, Prancis, Yunani, Serbia, Herbrew, dan Latin sebelum usianya mencapai 17 tahun. Sebagian besar waktunya juga dihabiskan di atas kuda, menjajal kemampuan fisiknya dalam medan laga. Semenjak balig, dia tak pernah luput dari shalat berjamaah, shalat sunnah, puasa sunnah, shalat malam, dan shalat dhuha. Spiritualitas yang kuat khas pemimpin Islam yang besar sudah melekati di dirinya sejak muda.
Kombinasi ilmu inilah yang kemudian membentuk karakter Muhammad Al-Fatih sebagai seorang yang sangat cerdas. Selain itu Ia juga berguru kepada seorang guru kerajaan yang bernama Syikh Aaq Syamsudin, seorang polymat juga ulama yang menguasai berbagai bidang dan berwawasan luas. Sehingga Mehmed mendapatkan ilmunya dari seorang yang benar-benar tepat.
 Dengan usianya yang baru 19 tahun, Muhammad dilantik menjadi sultan, menyusul kematian ayahnya. Setelah itu, seluruh harinya ia dedikasikan untuk merancang pembebasan Konstantinopel, mewujudkan bisyarah sang Rasul.
Konstantinopel akhirnya takhluk
 Konstantinopel adalah kota permata yang bersinar menyilaukan siapapun yang melihatnya. Keindahannya, kemajuannya, budayanya, juga letak strategisnya. Konstantinopel terlindung tembok benteng yang kukuh menjulang, kota ini  merupakan ibukota Byzantium yang sudah sejak lama ingin ditaklukan oleh siapapun.
Dua hari pertama serangan pasukan Sultan Muhammad Al-Fatih dapat dengan mudah dipatahkan oleh pasukan bertahan Konstantinopel. Taktik penyerangan menggunakan meriam pun dilakukan. Selama satu pekan,benteng dibombardir tanpa henti. Legenda 1.300 tahun bahwa benteng itu tak tertembus harus bisa dipecahkan rekornya sekarang.
Bombardir terus diluncurkan, hingga pasukan pun berhasil membuat lubang cukup besar di dekat Gerbang St.Romanus. 18 April, dua jam setelah azan dan shalat Magrib dilaksanakan berjamaah, Sultan memerintahkan penyerbuan besar-besaran. Akan tetapi, kali ini juga mampu ditahan. Benteng memang sudah berkurang ketahanannya. Namun, untuk ditembus dan merangsek ke dalam kota, itu masih terlalu jauh.
Peta Konstantinopel digelar. Di sekelilingnya telah berkumpul komandan perang, penasihat perang, dan semua ahli taktik Utsmani.Mendiskusikan rantai besar yang terhampar di laut yang memang digunakan untuk menghalangi pasukan laut Muhammad mendekati benteng, sang sultan menegaskan, ”Bila kita tak dapat memutuskan rantai itu, kita akan melewatinya!
Jalan satu-satunya adalah mengangkat kapal-kapal dari Double Coloumns di Selat Bosphorus melewati daratan Galata menuju Valley of Springs di Teluk Tanduk Emas agar bisa melewati rantai raksasa tersebut. Mustahil? Sangat! Akan tetapi, tekad sudah dicanangkan. Pembebasan Konstantinopel harus segera diselesaikan. Sekarang atau tidak sama sekali.
Ratusan sapi jantan dikerahkan untuk menarik kapal-kapal Utsmani membelah bukit dengan ketinggian rata-rata 60 meter di atas permukaan laut dan ratusan laki-laki membantu mengarahkan serta menariknya dengan tali-tali yang diikatkan pada tubuh mereka. Hebatnya, 72 kapal itu sukses melewati bukit tersebut hanya dalam waktu satu malam.
Perencanaan serangan pamungkas pun digelar. Semua dewan pertimbangan dikumpulkan. Impian tujuh turunan keluarga Utsman dan 825 tahun mimpi kaum muslimin harus segera diwujudkan.
Takbir bersahutan. Kunci kemenangan bukan pada lengkapnya persenjataan dan jumlah pasukan, tetapi pada ketaatan kepada Allah dan terjauhnya diri dari kemaksiatan. Seluruh pasukan Sultan Muhammad sadar akan hal itu.
Pukul satu dini hari adalah langkah awal berakhirnya pengepungan dan serangan umum mulai dilancarkan. Serangan penghabisan. Menang atau kalah. Sekarang atau tidak sama sekali! Empat jam serangan dilancarkan, benteng tak jua berhasil ditaklukkan. Setiap serangan selalu termentahkan. Ribuan pasukan mulai kendor lagi semangatnya. Jumlahnya mulai berkurang karena banyak yang syahid.
Sultan kebingungan. Pasukan Janissari sebanyak tujuh ribu yang menjadi pasukan andalannya adalah kunci terakhir. Lalu, diperintahkannyalah pasukan Janissari untuk menyerbu. Pasukan tersebut berhasil menekan pertahanan. Ditambah lagi, bendera Utsmani berhasil dikibarkan menggantikan bendera St. Mark di sisi lain benteng. Itu adalah awal dari ciutnya nyali pasukan Konstantinopel. Kota telah jatuh! Begitu pikir mereka.
Gempuran meriam makin digencarkan untuk melantakkan benteng. Gerbang St. Romanus pun dapat dijebol pasukan Janissari dan mereka menancapkan bendera Utsmani di sana. Setelah itu, 30.000 pasukan muslim telah berada di dalam kota. Kemudian, satu per satu gerbang dibuka dari dalam dan di satu per satu menara ditancapkan bendera Utsmani yang berkibar di atasnya, berwarna merah dan hijau dengan bulan sabit berwarna emas. Terikan-teriakan, ”Kota telah jatuh, kota telah jatuh!” mulai terdengar bersahutan dari mulut kaum muslimin yang sedari tadi melantunkan takbir keras-keras.
Prestasi Muhammad Al-Fatih dalam memimpin serta ketegasannya terhadap musuh sehingga Ia mampu mendapatkan keberhasilan dalam hidupnya, mampu merebut benteng kokoh bernama Konstantinopel itu, tidak lain juga di latar belakangi oleh kepribadiannya yang luhur. Sholat malam atau sholat tahajjud menjadi senjata utamanya. Inilah pedang malam Muhammad Al-Fatih. Dengan pedangnya ini maka timbullah energi yang luar biasa yang menalir di dalam nadi setiap pasukannya. Ruh-ruh inilah yang harus dihembuskan dalam dada-dada para pemuda dimanapun dan kapanpun. Demi mewujudkan Islam yang jaya.


1 komentar:

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

About Author

Assalamu'alaikum, welcome to my personally blog. This blog is a place where i want to share many things, in between characters, and more. Thank you for visiting and Happy Reading! -Nadiya Ridlwan-
Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Pages - Menu

Instagram

@nadiyakaff

Copyright © Nadiya Ridlwan | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com