سوء الخلق يؤدي
I believe it.
Perlu di garis
bawahi, aku gk bilang mereka “nakal”, orang-orang sana yang bilang. Tapi bukan
berarti aku membenarkan semua perilaku itu. Kenapa? Karna menurutku definisi
nakal itu relative tergantung culture masing-masing, dan kita juga gk boleh sembarangan
nge-judge seseorang dengan label “nakal” kalo kita gk tau kehidupan asli
mereka.
Oke, urusan label
kata “nakal” sampe situ aja, nanti ribet kalo diperpanjang, rada sensitive
soalnya.
satu lagi, aku suka meng-observasi sesuatu.
Dan sebenarnya,
pembahasan utamanya bukan itu, melainkan dibawah ini…
Kisah pertama:
Aku punya temen, tetangga
juga sih. Kata orang-orang, anak ini suka minum-minum (faham kan?) dan
lain-lain keburukan dia yang sering dibicarakan sama orang-orang. Aku gk mau
langsung percaya dong, maka langsunglah aku tanyain ke dia ini. Selanjutnya
terjadilah percakapan-percakapan yang membahas tentang perilaku dia, -kesannya
saya ikut campur banget yah- tapi gakpapa deh. Ada satu perkataan dia yang
masih melekat banget dibenakku sampe sekarang :”senakal-nakalnya aku cuma
mabuk sama nyuri doang kok nad”, what? shocked, sambil nasihati
semampunya, secara aku juga manusia biasa yang tak luput dari dosa lah.
Lama-lama dia
nanya tentang hukum-hukum yang bersangkutan dengan dia, tentang hukum minum
anggur, hukum sholatnya orang yang sehabis sholat malah minum anggur, hukum
tatto, dll sembari memberikan kilahnya dia yang seakan-akan dia pakai buat
pembenaran atas apa yang dilakukannya, misal:
“kan minumnya gk sampe mabuk, yang dilarang kan mabuknya”
“kan sholatnya gk sambil mabuk, orang minumnya habis sholat kok”
“kalo nattonya di leher gkpapa lah, leher kan bukan daerah yang
diwudhuin, jadi gk mengahalangi masuknya air ke daerah yang dibuat wudhu”
Yang kemudian aku
jawab panjang kali lebar kali tinggi semampuku dengan segelintir ilmu yang aku tau,
yang intinya seorang muslim dilarang melakukan semua itu apapun kilahnya.
Sebenarnya, ada
hal lain yang lebih aku perhatiin dari kisahnya dia ini, bahwa dia merasa gk
nyaman dengan ibunya walaupun dia gk bilang itu secara langsung, tapi bisa
dilihat dari sikap dia yang gk suka ditelfon ibunya, gk suka dirumah lama-lama
karna katanya ibunya suka ngomel dan dalilin macem-macem, walapun aku yakin
pasti dia masih punya rasa sayang ke ibunya, cuma gk nyaman aja.
Kisah kedua:
Ummiku pernah
cerita tentang temennya, sebut aja Mamah. Karna Ummi sama Mamah ini sama-sama
ibu-ibu, mereka sama-sama suka cerita dong tentang perkembangan anak-anaknya.
Mamah ini pernah cerita tentang anak laki-lakinya yang mbandel, gk bisa
diatur, gk bisa dikontrol, dan bahkan gk mau sekolah, lalu ditanya sama Ummi: “lah
kamu pernah nyoba ngobrol-ngobrol gk sama anakmu? Dari hati ke hati gitu?”,
jawabnya “kayaknya gk pernah deh”. Padahal dulu aku kenal baik sama anak
itu sewaktu dia masih terbilang adek-adek, waktu aku bilangin macem-macem dan
dia nurut-nurut aja.
Kisah ketiga:
Adik aku sendiri
yang memang harus agak spesial kalo nyikapin dia, agak susah. Dan yang
aku perhatikan, diantara semua anaknya Ummi yang paling susah buat terbuka
cerita macem-macem itu si dia ini. Mungkin dia merasa gk nyaman karna hobi dia
terlalu sering di riweuhin. Tapi kalo sama aku dia bisa terbuka banget
loh walaupun harus butuh dipancing, kadang aku ajak jalan-jalan nanti sambil di
motor kita ngobrol macem-macem, kadang aku masakin sesuatu sambil aku minta
ditemenin dia, nanti sambil aku suruh dia kupas bawang –padahal anak laki-laki
loh- atau bantuin masak apalah dianya mau cerita, tapi yaa harus paham mood dia
juga.
Sampe sini, dari
tiga kisah diatas bisa nangkep sesuatu gk?
Bahwa kebanyakan,
dari kasus-kasus tentang anak yang bermasalah itu ada komunikasi yang kurang baik serta ke-tidaknyaman-an hati antara si anak dengan anggota keluarga yang lain,
terutama orangtua. Karna keluarga itu jadi alasan utama terbentuknya
kepribadian seorang anak. Jadi ketika seorang anak merasa gk nyaman
dilingkungan keluarganya sendiri, dia akan mencari kenyaman di lingkungan lain,
dan fatalnya kalau lingkungan yang dia pilih itu lingkungan temen-temen yang
sama-sama bermasalah.
Menurut aku, yang
mereka butuhkan itu pendekatan, bukannya segala cap macem-macem, bukan segala
omel-omelan atau malah disudutkan. Kalo rasa nyaman aja gk ada gimana dia bisa
menerima nasihat-nasihat buat dia?. –maaf rancu, secara saya belum jadi ahli
psikologi, pengalaman hidup juga baru 20 tahun-
Hal itu
dibenarkan juga oleh Dosen aku yang bilang bahwa “sebenarnya gk ada sih yang
namanya anak nakal, selama komunikasi kita baik sama anak”.
Kemudian dapet
pembenaran lagi dari salah satu blogger parenting favorit aku, si Mbak
Gesi pada salah satu post beliau yang bisa diambil beberapa point:
Nah, udah bisa
disimpulkan ya, faktor keluarga itu perlu banget diperhatikan, bener gk?
Kesimpulan lainnya,
yang pasti udah banyak difahami oleh siapapun bahwa jadi orangtua itu gk
gampang, oleh sebab itu juga banyak pasangan yang ingin menunda kehamilan. Karena
urusannya bukan cuma soal finansial aja, tapi juga kesiapan mental buat
memberikan pendidikan moral yang baik, harus memberikan contoh yang baik, memantau perkembangan kepribadian mereka, dan segala macem lainnya yang masih buanyak lagi. Susah iya susah. Amanah besar
dunia akhirat.
Buat para
orangtua, semangat berjuang mendidik anak-anaknya menjadi generasi rabbani. Semoga
berhasil.
Buat para calon
orangtua, yuk terus belajar agar kelak kita bisa mendidik anak-anak kita dengan
baik.
Selamat berjuang!











