all about daily, opinion, stories, inspiration, until the lesson

Selasa, 27 November 2018

Anak Yang Katanya Nakal



سوء الخلق يؤدي
I believe it.

Perlu di garis bawahi, aku gk bilang mereka “nakal”, orang-orang sana yang bilang. Tapi bukan berarti aku membenarkan semua perilaku itu. Kenapa? Karna menurutku definisi nakal itu relative tergantung culture masing-masing, dan kita juga gk boleh sembarangan nge-judge seseorang dengan label “nakal” kalo kita gk tau kehidupan asli mereka.
Oke, urusan label kata “nakal” sampe situ aja, nanti ribet kalo diperpanjang, rada sensitive soalnya.
satu lagi, aku suka meng-observasi sesuatu.

Dan sebenarnya, pembahasan utamanya bukan itu, melainkan dibawah ini…



Kisah pertama:
Aku punya temen, tetangga juga sih. Kata orang-orang, anak ini suka minum-minum (faham kan?) dan lain-lain keburukan dia yang sering dibicarakan sama orang-orang. Aku gk mau langsung percaya dong, maka langsunglah aku tanyain ke dia ini. Selanjutnya terjadilah percakapan-percakapan yang membahas tentang perilaku dia, -kesannya saya ikut campur banget yah- tapi gakpapa deh. Ada satu perkataan dia yang masih melekat banget dibenakku sampe sekarang :”senakal-nakalnya aku cuma mabuk sama nyuri doang kok nad”, what? shocked, sambil nasihati semampunya, secara aku juga manusia biasa yang tak luput dari dosa lah.
Lama-lama dia nanya tentang hukum-hukum yang bersangkutan dengan dia, tentang hukum minum anggur, hukum sholatnya orang yang sehabis sholat malah minum anggur, hukum tatto, dll sembari memberikan kilahnya dia yang seakan-akan dia pakai buat pembenaran atas apa yang dilakukannya, misal:
“kan minumnya gk sampe mabuk, yang dilarang kan mabuknya”
“kan sholatnya gk sambil mabuk, orang minumnya habis sholat kok”
“kalo nattonya di leher gkpapa lah, leher kan bukan daerah yang diwudhuin, jadi gk mengahalangi masuknya air ke daerah yang dibuat wudhu”
Yang kemudian aku jawab panjang kali lebar kali tinggi semampuku dengan segelintir ilmu yang aku tau, yang intinya seorang muslim dilarang melakukan semua itu apapun kilahnya.
Sebenarnya, ada hal lain yang lebih aku perhatiin dari kisahnya dia ini, bahwa dia merasa gk nyaman dengan ibunya walaupun dia gk bilang itu secara langsung, tapi bisa dilihat dari sikap dia yang gk suka ditelfon ibunya, gk suka dirumah lama-lama karna katanya ibunya suka ngomel dan dalilin macem-macem, walapun aku yakin pasti dia masih punya rasa sayang ke ibunya, cuma gk nyaman aja.



Kisah kedua:
Ummiku pernah cerita tentang temennya, sebut aja Mamah. Karna Ummi sama Mamah ini sama-sama ibu-ibu, mereka sama-sama suka cerita dong tentang perkembangan anak-anaknya. Mamah ini pernah cerita tentang anak laki-lakinya yang mbandel, gk bisa diatur, gk bisa dikontrol, dan bahkan gk mau sekolah, lalu ditanya sama Ummi: “lah kamu pernah nyoba ngobrol-ngobrol gk sama anakmu? Dari hati ke hati gitu?”, jawabnya “kayaknya gk pernah deh”. Padahal dulu aku kenal baik sama anak itu sewaktu dia masih terbilang adek-adek, waktu aku bilangin macem-macem dan dia nurut-nurut aja.



Kisah ketiga:
Adik aku sendiri yang memang harus agak spesial kalo nyikapin dia, agak susah. Dan yang aku perhatikan, diantara semua anaknya Ummi yang paling susah buat terbuka cerita macem-macem itu si dia ini. Mungkin dia merasa gk nyaman karna hobi dia terlalu sering di riweuhin. Tapi kalo sama aku dia bisa terbuka banget loh walaupun harus butuh dipancing, kadang aku ajak jalan-jalan nanti sambil di motor kita ngobrol macem-macem, kadang aku masakin sesuatu sambil aku minta ditemenin dia, nanti sambil aku suruh dia kupas bawang –padahal anak laki-laki loh- atau bantuin masak apalah dianya mau cerita, tapi yaa harus paham mood dia juga.



Sampe sini, dari tiga kisah diatas bisa nangkep sesuatu gk?
Bahwa kebanyakan, dari kasus-kasus tentang anak yang bermasalah itu ada komunikasi yang kurang baik serta ke-tidaknyaman-an hati antara si anak dengan anggota keluarga yang lain, terutama orangtua. Karna keluarga itu jadi alasan utama terbentuknya kepribadian seorang anak. Jadi ketika seorang anak merasa gk nyaman dilingkungan keluarganya sendiri, dia akan mencari kenyaman di lingkungan lain, dan fatalnya kalau lingkungan yang dia pilih itu lingkungan temen-temen yang sama-sama bermasalah.

Menurut aku, yang mereka butuhkan itu pendekatan, bukannya segala cap macem-macem, bukan segala omel-omelan atau malah disudutkan. Kalo rasa nyaman aja gk ada gimana dia bisa menerima nasihat-nasihat buat dia?. –maaf rancu, secara saya belum jadi ahli psikologi, pengalaman hidup juga baru 20 tahun- 

Hal itu dibenarkan juga oleh Dosen aku yang bilang bahwa “sebenarnya gk ada sih yang namanya anak nakal, selama komunikasi kita baik sama anak”.
Kemudian dapet pembenaran lagi dari salah satu blogger parenting favorit aku, si Mbak Gesi pada salah satu post beliau yang bisa diambil beberapa point:

Nah, udah bisa disimpulkan ya, faktor keluarga itu perlu banget diperhatikan, bener gk?
Kesimpulan lainnya, yang pasti udah banyak difahami oleh siapapun bahwa jadi orangtua itu gk gampang, oleh sebab itu juga banyak pasangan yang ingin menunda kehamilan. Karena urusannya bukan cuma soal finansial aja, tapi juga kesiapan mental buat memberikan pendidikan moral yang baik, harus memberikan contoh yang baik, memantau perkembangan kepribadian mereka, dan segala macem lainnya yang masih buanyak lagi. Susah iya susah. Amanah besar dunia akhirat.


Buat para orangtua, semangat berjuang mendidik anak-anaknya menjadi generasi rabbani. Semoga berhasil.
Buat para calon orangtua, yuk terus belajar agar kelak kita bisa mendidik anak-anak kita dengan baik.
Selamat berjuang!

4 komentar:

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

About Author

Assalamu'alaikum, welcome to my personally blog. This blog is a place where i want to share many things, in between characters, and more. Thank you for visiting and Happy Reading! -Nadiya Ridlwan-
Diberdayakan oleh Blogger.

Advertisement

Pages - Menu

Instagram

@nadiyakaff

Copyright © Nadiya Ridlwan | Powered by Blogger
Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com